Puncak Kekeringan Tahun 2023

Tiga fenomena yang terjadi bersamaan membuat September menjadi kemungkinan puncak kekeringan di tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap tiga fenomena yang terjadi bersamaan yang membuat bulan September-Oktober menjadi kemungkinan puncak kekeringan tahun 2023.

Pertama, El Nino merupakan anomali suhu di Samudera Pasifik yang memicu penurunan curah hujan secara global, termasuk di Indonesia. Menurut keterangan BMKG, Dampak El Nino di Indonesia umumnya terasa kuat pada musim kemarau yaitu pada bulan-Juli- Oktober.

Kedua, BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2023 di sebagian besar wilayah terjadi pada Juli dan Agustus 2023 dengan 507 zona musim (ZOM) atau 72,53 persen wilayah Indonesia. Hal ini membuat bulan September mengalami kekeringan yang ekstrem di sebagian wilayah Indonesia.

Ketiga, Faktor ‘pengering’ lainnya adalah Ekuinoks, yaitu fenomena ketika Matahari melintasi ekuator atau garis khatulistiwa. Efeknya, durasi siang dan malam di belahan Bumi selatan dan utara seimbang. Pada saat yang bersamaan, bulan September-Oktober juga Matahari secara siklusnya akan kembali berada di sekitar ekuator, pada periode tersebut radiasi matahari yang diterima oleh Indonesia akan maksimum.

Trending Artikel